Meja Hijau
Sejarah dan budaya di balik kasino
Sejarah

Dari Mesir ke meja Eropa: asal-usul kartu remi dan warisan kartu Mamluk

Kartu remi yang kita mainkan hari ini berakar pada kartu Mamluk dari dunia Islam, yang tiba di Eropa pada akhir abad keempat belas. Jejaknya masih hidup pada empat jenis kartu, dan pada sejarah yang jauh lebih tua daripada yang kita duga.

oleh Larasati Dewi · 13 Oktober 2026

Setumpuk kartu remi terasa seperti benda yang begitu akrab dan modern sehingga jarang kita bertanya dari mana ia berasal. Padahal kartu yang kita pakai untuk bermain poker, blackjack, atau sekadar permainan keluarga menyimpan sejarah yang membentang berabad-abad dan melintasi benua, dari Asia ke dunia Islam lalu ke Eropa. Bentuknya yang sekarang, dengan empat jenis kartu dan kartu-kartu bergambar tokoh, adalah hasil dari perjalanan panjang dan sejumlah penyederhanaan. Salah satu mata rantai paling penting dan sering terlupakan dalam perjalanan itu adalah kartu Mamluk, kartu dari dunia Islam yang menjadi jembatan langsung menuju kartu remi Eropa. Menelusurinya adalah menyingkap warisan yang masih hidup di tangan kita setiap kali kita mengocok setumpuk kartu.

Berawal jauh di timur

Sebelum sampai ke kartu Mamluk, ada baiknya menyebut akar yang lebih tua lagi. Kartu main kemungkinan besar berasal dari Tiongkok, muncul berabad-abad silam seiring berkembangnya teknologi cetak, lalu menyebar perlahan ke arah barat. Perlu ditegaskan bahwa rantai penyebaran dari Tiongkok ke dunia Islam ini tidak terdokumentasi lengkap, dan sebagian bukti awalnya masih diperdebatkan para sejarawan, sehingga sebaiknya diperlakukan sebagai teori yang dominan, bukan kepastian mutlak. Yang lebih pasti dan terdokumentasi adalah mata rantai berikutnya, yaitu kedatangan kartu di Eropa lewat dunia Islam.

Kartu main muncul di Eropa pada tahun 1370-an, dengan bukti tertua berupa catatan dan larangan permainan kartu dari masa itu. Kartu-kartu ini kemungkinan besar masuk dari Kesultanan Mamluk, sebuah kekuatan Islam yang berpusat di Mesir, dan tiba lebih dulu di kawasan seperti Spanyol dan Italia sebelum menyebar ke seluruh Eropa. Dari sinilah kisah kartu Mamluk menjadi penting.

Wujud kartu Mamluk

Dek kartu Mamluk sudah memiliki struktur yang mengejutkan mirip dengan kartu remi modern. Ia terdiri dari lima puluh dua kartu dengan empat jenis, atau suit. Keempat jenis itu adalah piala, koin, pedang, dan tongkat polo. Perhatikan betapa jumlah kartu dan konsep empat jenis ini sudah menyerupai kartu yang kita kenal sekarang, sebuah bukti betapa langsungnya warisan ini.

Satu jenis dari kartu Mamluk menyimpan cerita menarik tentang bagaimana budaya mengubah simbol. Jenis tongkat polo merujuk pada olahraga polo, yang populer di dunia Islam tetapi asing bagi orang Eropa. Karena orang Eropa tidak mengenal polo, ketika kartu ini diadopsi, tongkat polo berubah menjadi tongkat biasa, yang kemudian di sebagian tradisi menjadi jenis yang kita kenal sebagai keriting. Setiap jenis kartu Mamluk memiliki kartu bernomor ditambah kartu-kartu istana yang menggambarkan tingkatan seperti raja dan para wakilnya.

Kartu tanpa wajah

Ada satu ciri kartu Mamluk yang sangat khas dan penting untuk dipahami, yaitu bahwa kartu-kartu ini tidak menggambarkan sosok manusia. Berbeda dari kartu remi Eropa yang penuh dengan gambar raja, ratu, dan pangeran, kartu istana Mamluk menampilkan desain abstrak dan tulisan kaligrafi, bukan wajah atau tubuh manusia.

Ciri ini kemungkinan besar berkaitan dengan tradisi dalam seni Islam yang menghindari penggambaran sosok manusia, terutama dalam konteks tertentu. Jadi kartu Mamluk yang menjadi nenek moyang kartu remi Eropa justru tidak memiliki gambar tokoh sama sekali; gambar-gambar raja dan ratu yang kini menghiasi kartu wajah adalah tambahan Eropa yang muncul kemudian, ketika budaya yang mengadopsinya tidak terikat larangan penggambaran figur. Salah satu contoh dek Mamluk yang bertahan dan paling terkenal adalah sebuah dek tak lengkap yang tersimpan di sebuah museum istana di Istanbul, yang menjadi bukti berharga tentang wujud asli kartu-kartu ini.

Bagaimana empat jenis berevolusi

Perjalanan dari kartu Mamluk ke kartu remi modern melibatkan serangkaian penyederhanaan yang menarik untuk ditelusuri. Keempat jenis kartu Mamluk, yaitu piala, koin, pedang, dan tongkat, diwarisi hampir langsung oleh kartu-kartu awal Eropa, dan jejaknya masih sangat hidup sampai kini. Kartu tradisional Italia dan Spanyol masih memakai keempat jenis bergaya lama ini, yang disebut jenis Latin, sebagai keturunan langsung dari kartu Mamluk.

Jenis kartu yang paling dikenal di seluruh dunia sekarang, yaitu hati, wajik, keriting, dan sekop, adalah hasil penyederhanaan yang dilakukan di Prancis pada abad kelima belas. Alasan penyederhanaan ini praktis: simbol-simbol Prancis yang lebih sederhana jauh lebih murah dan mudah dicetak secara massal dibanding gambar-gambar rumit jenis Latin, sehingga menang dalam produksi dan menyebar luas. Perlu dicatat bahwa jalur evolusi ini tidak sepenuhnya berupa garis lurus; sebagian sumber menyebut bahwa jenis Prancis menyederhanakan pula pengaruh dari jenis Jerman, sehingga silsilahnya bercabang, bukan tunggal. Namun benang merahnya jelas: jenis kartu modern yang dominan hari ini adalah hasil penyederhanaan bertahap dari jenis yang diwarisi kartu Mamluk.

Warisan di tangan kita

Ketika saya memegang setumpuk kartu remi, saya suka mengingat betapa panjang perjalanan yang telah ditempuh benda kecil ini. Empat jenis yang tercetak di sudut setiap kartu adalah gema langsung dari piala, koin, pedang, dan tongkat kartu Mamluk, yang pada gilirannya membawa jejak perjalanan dari timur yang lebih jauh lagi. Bahkan kekhasan bahwa kartu Mamluk tidak bergambar manusia mengajarkan sesuatu tentang bagaimana setiap budaya membentuk ulang apa yang ia warisi sesuai nilai-nilainya sendiri.

Sejarah kartu remi adalah pengingat bahwa hal-hal yang kita anggap sepenuhnya modern dan akrab sering kali menyimpan warisan yang membentang berabad-abad dan melintasi banyak peradaban. Sebuah permainan kartu di meja mana pun hari ini adalah, dalam arti yang sangat nyata, kelanjutan dari sebuah tradisi yang bergerak dari Tiongkok ke Mesir ke Eropa dan akhirnya ke seluruh dunia. Dan setiap kali kita mengocok kartu, kita ikut memainkan bagian terkecil dari sebuah kisah yang jauh lebih tua daripada yang kita sadari.

Sumber

  1. Mamluk playing cards — Wikipedia: empat suit Mamluk, ketiadaan gambar manusia, dan dek Topkapı
  2. Playing card — Wikipedia: asal Tiongkok, kedatangan di Eropa 1370-an, dan evolusi suit Latin ke Prancis

— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.