Bakarat, bandar yang berpindah, dan sebuah mitos tentang kata 'nol'
Chemin de fer, bakarat versi bangsawan Prancis, punya aturan aneh: bandarnya bukan kasino, melainkan para pemain yang bergiliran. Sekaligus kisah tentang asal-usul yang diperdebatkan dan satu etimologi populer yang ternyata tak berdasar.
Di ruang-ruang judi kaum berada Prancis abad kesembilan belas, ada permainan kartu yang dianggap paling elegan dari semuanya. Namanya chemin de fer, sebuah varian bakarat, dan keanggunannya sebagian berasal dari aturan yang membedakannya dari hampir semua permainan kasino: di meja itu, kasino bukanlah lawan Anda. Bandar yang menghadapi para pemain justru salah satu dari pemain itu sendiri, dan peran bandar berpindah dari tangan ke tangan mengelilingi meja. Untuk memahami mengapa permainan ini begitu digemari bangsawan, dan untuk meluruskan beberapa cerita yang terlanjur beredar tentangnya, ada baiknya kita mulai dari hal yang paling sering disalahpahami: namanya.
Sebuah kata yang asalnya tidak kita ketahui
Hampir setiap penjelasan populer tentang bakarat membuka dengan klaim yang sama, bahwa kata “baccarat” berarti “nol” dalam bahasa Italia atau Prancis, merujuk pada nilai kartu sepuluh dan kartu wajah yang dihitung nol dalam permainan. Klaim itu terdengar rapi, dan justru karena terlalu rapi ia patut dicurigai. Kejujuran menuntut kita menyebutnya apa adanya: etimologi rakyat yang tidak didukung sumber leksikografis mana pun.
Kamus etimologi mencatat kata itu masuk dari bahasa Prancis “baccara” pada abad kesembilan belas, dengan atestasi tertulis pertama sekitar tahun 1848, dan menyatakan terus terang bahwa asal-usulnya tidak diketahui. Sumber lain menduga kata itu justru berasal dari nama sebuah kota di Prancis, Baccarat, yang terkenal karena industri kacanya. Yang pasti, tidak ada bukti bahwa kata itu pernah berarti “nol”. Bahwa kartu sepuluh dan kartu wajah bernilai nol memang benar sebagai aturan main, tetapi itu fakta tentang cara bermain, bukan bukti tentang asal kata. Sebuah pengingat kecil bahwa cerita yang paling enak diulang belum tentu cerita yang benar.
Asal-usul yang jujurnya diperdebatkan
Nasib serupa menimpa kisah kelahiran permainannya. Banyak situs menyajikan asal bakarat sebagai fakta pasti: lahir di Italia pada abad kelima belas, lalu dibawa tentara Prancis pulang dari perang. Cerita itu beredar luas, tetapi tidak terbukti. Ada pula teori tandingan yang menautkan pendahulunya ke permainan-permainan Asia. Yang bisa kita katakan dengan aman adalah bahwa asal-usulnya diperdebatkan, dan bukti yang benar-benar terdokumentasi baru muncul pada abad kesembilan belas, ketika bakarat sudah mapan sebagai hiburan kaum bangsawan Prancis dan permainannya dilegalkan secara resmi pada awal abad kedua puluh.
Menariknya, salah satu jejak paling terang justru berupa skandal. Pada 1890 terjadi peristiwa yang dikenal sebagai skandal bakarat kerajaan, melibatkan tokoh yang kelak menjadi Raja Edward VII, dan peristiwa itu begitu menghebohkan sampai koran-koran memuat aturan mainnya bagi pembaca yang penasaran. Sejarah yang terdokumentasi baik sering datang lewat pintu belakang seperti ini, lewat sengketa dan gosip yang tercatat, bukan lewat catatan pendirian yang rapi.
Bandar yang mengelilingi meja
Yang membuat chemin de fer khas adalah mekaniknya. Salah seorang pemain bertindak sebagai bandar, mempertaruhkan uangnya sendiri melawan pemain-pemain lain. Kasino tidak menjadi bandar; ia hanya menyediakan meja dan seorang croupier, lalu memungut komisi, biasanya sekitar lima persen, dari kemenangan bandar. Peran bandar bertahan selama ia menang atau seri, dan berpindah ke pemain berikutnya searah meja begitu ia kalah. Jadi sepanjang malam, hampir setiap orang di meja bergiliran memikul risiko sebagai bandar.
Struktur ini punya konsekuensi yang membuatnya terasa lebih “aristokratis” daripada permainan kasino biasa. Karena uang mengalir antar pemain dan bukan ke brankas rumah, meja chemin de fer terasa seperti pertarungan langsung antar orang setara, bukan antara individu melawan institusi. Dan tidak seperti bakarat kasino modern, pemain di chemin de fer punya keputusan untuk diambil: pada situasi tertentu ia boleh memilih menarik kartu ketiga atau berhenti, memasukkan sedikit unsur pertimbangan ke dalam permainan yang selebihnya ditentukan peluang.
Nama “chemin de fer” sendiri berarti “jalan kereta api”, dan mengapa demikian punya dua penjelasan yang sama-sama belum pasti. Salah satunya menyebut permainan ini lebih cepat daripada bakarat versi lama, dan kereta api adalah lambang kecepatan pada pertengahan abad kesembilan belas. Penjelasan lain menunjuk pada kotak kartu, atau shoe, yang berpindah cepat mengelilingi meja seolah melaju di atas rel. Keduanya beredar sebagai kemungkinan, dan tidak ada yang benar-benar dibuktikan, jadi keduanya sebaiknya disebut sebagai cerita yang beredar, bukan sejarah yang tetap.
Elegan sampai ke layar bioskop
Citra elit chemin de fer bertahan cukup lama untuk menempel pada salah satu tokoh fiksi paling terkenal abad kedua puluh. Dalam novel Casino Royale terbitan 1953, permainan yang dipilih Ian Fleming untuk adegan judi James Bond adalah bakarat chemin de fer, dan Fleming bahkan menyelipkan penjelasan aturannya bagi pembaca. Permainan itu dipilih justru karena auranya: meja tempat orang-orang berpakaian rapi bertaruh dalam jumlah besar melawan satu sama lain, bukan melawan mesin. Menariknya, ketika kisah yang sama difilmkan ulang pada 2006, permainannya diganti menjadi poker Texas hold’em, sebuah pertukaran yang diam-diam menandai pergeseran selera zaman, dari keanggunan salon lama ke permainan yang lebih akrab bagi penonton masa kini.
Kenapa kasino modern memilih versi tanpa keputusan
Bakarat yang Anda temukan di lantai kasino hari ini umumnya bukan chemin de fer, melainkan versi bernama punto banco, dan perbedaannya menjelaskan banyak hal tentang bagaimana industri judi berkembang. Di punto banco, kasino selalu menjadi bandar, dan pemain tidak punya keputusan apa pun untuk diambil: setiap langkah menarik atau menahan kartu sudah ditentukan sepenuhnya oleh aturan tetap. Permainannya menjadi murni peluang, tanpa keterampilan, dan berjalan cepat seperti mesin.
Perpindahan dari chemin de fer ke punto banco adalah cerita kecil tentang efisiensi mengalahkan keanggunan. Chemin de fer menuntut pemain yang bersedia menjadi bandar dan mengambil keputusan, sebuah ritual sosial yang lambat dan menuntut. Punto banco membuang semua itu, menjadikan kasino sebagai bandar tetap dan pemain sebagai penonton nasibnya sendiri. Yang tersisa dari kemewahan salon Prancis abad kesembilan belas, dengan bandar yang berpindah dan keputusan yang harus diambil, kini lebih banyak hidup di halaman novel dan adegan film daripada di meja sungguhan. Sebuah permainan yang dulu mempertemukan bangsawan sebagai lawan setara, kini paling sering dijumpai dalam bentuk yang justru menghapus hampir semua yang membuatnya istimewa.
Sumber
- Baccarat (Wikipedia) — asal-usul yang diperdebatkan, konteks bangsawan, kaitan James Bond, dan beda dengan punto banco
- Pagat — aturan chemin de fer: bandar bergilir antar pemain, komisi rumah ~5%, keputusan menarik kartu ketiga
- Etymonline — 'baccarat', dari bahasa Prancis baccara (abad ke-19), asal kata tidak diketahui, atestasi pertama 1848
— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.