Meja Hijau
Sejarah dan budaya di balik kasino
Sejarah

Novel yang lahir dari kecanduan: Dostoevsky, roulette, dan taruhan melawan tenggat

Fyodor Dostoevsky menghamburkan uangnya di meja roulette kasino-kasino spa Jerman. Dari kecanduan itu, di bawah kontrak yang mengancam merampas seluruh karyanya, ia mendiktekan sebuah novel tentang seorang penjudi dalam waktu kurang dari sebulan.

oleh Larasati Dewi · 27 September 2026

Di taman spa kota Wiesbaden, Jerman, berdiri sebuah patung dada Fyodor Dostoevsky, penulis Rusia yang dianggap salah satu novelis terbesar sepanjang masa. Patung itu tidak dipasang untuk merayakan mahakaryanya seperti Kejahatan dan Hukuman atau The Brothers Karamazov. Ia berdiri di sana karena di kota inilah, di meja-meja roulette kasinonya, Dostoevsky berulang kali kehilangan uangnya dalam cengkeraman kecanduan judi yang menyiksa. Dari kecanduan yang memalukan itu lahir sebuah novel, dan kisah bagaimana novel itu ditulis adalah salah satu cerita paling dramatis dalam sejarah sastra, sekaligus potret jujur tentang psikologi seorang penjudi yang ditulis oleh penjudi itu sendiri.

Seorang jenius di meja roulette

Antara tahun 1863 dan 1871, Dostoevsky terjerat kecanduan roulette di kasino-kasino kota spa Jerman, terutama Wiesbaden dan Baden-Baden. Ia bukan penjudi santai; ia terobsesi. Surat-suratnya mencatat kekalahan demi kekalahan, uang yang habis, barang-barang yang digadaikan, termasuk milik istrinya, demi terus bermain. Dalam sebuah surat ia menggambarkan bagaimana pada suatu malam ia kehilangan segalanya lalu melarikan diri seperti orang gila. Seperti banyak penjudi, ia sempat percaya bahwa ada semacam sistem atau disiplin diri yang bisa menaklukkan roulette, keyakinan yang berulang kali dihancurkan oleh kenyataan bahwa ia terus bangkrut.

Ironi terbesar dari hidupnya pada masa itu adalah bahwa kebutuhan uang yang mendesak, sebagian akibat utang judi, justru mendorongnya menulis. Ia berutang di sana-sini, dan tekanan finansial itulah yang membawanya ke sebuah kontrak yang nyaris menghancurkan kariernya.

Kontrak yang mengancam merampas segalanya

Terdesak utang, Dostoevsky menandatangani perjanjian dengan seorang penerbit bernama Stellovsky. Syaratnya kejam. Bila ia tidak menyerahkan sebuah novel baru pada tenggat 1 November 1866, Stellovsky berhak menerbitkan seluruh karya Dostoevsky selama sembilan tahun ke depan tanpa membayar sepeser pun kepada sang penulis. Bagi seorang penulis, itu berarti kehilangan hak atas hasil kerjanya sendiri selama hampir satu dekade. Kontrak itu adalah taruhan lain, kali ini bukan di meja roulette melainkan di meja kerja, dengan seluruh masa depannya sebagai pertaruhan.

Ketika tenggat mendekat, Dostoevsky belum menulis novel yang dijanjikan, dan waktu hampir habis. Dalam keputusasaan, ia menempuh cara yang belum lazim pada masanya: ia menyewa seorang stenografer untuk mempercepat proses. Stenografer itu bernama Anna Grigoryevna Snitkina, seorang perempuan muda berusia sembilan belas tahun, salah satu stenografer pertama di Rusia. Dostoevsky mendiktekan, Anna mentranskrip, dan bersama mereka berpacu dengan tenggat.

Sebuah novel dalam hitungan hari

Yang terjadi berikutnya adalah legenda dalam sejarah sastra. Menurut catatan biografi, Dostoevsky menyelesaikan seluruh novel dalam waktu yang luar biasa singkat, sekitar dua puluh enam hari, tepat pada waktunya untuk memenuhi kontrak dan menyelamatkan hak atas karyanya. Beberapa sumber lebih hati-hati menyebut bahwa ia menyelesaikannya tepat waktu di bawah tekanan tenggat yang ekstrem, tanpa menyebut angka hari yang pasti, jadi rentang sekitar dua puluh enam hari sebaiknya diperlakukan sebagai perkiraan yang lazim dikutip, bukan angka yang mutlak.

Novel yang lahir dari perlombaan itu berjudul Igrok, atau The Gambler, yang berarti Penjudi. Judulnya tidak dipilih secara kebetulan. Novel itu semi-otobiografis, menggambarkan psikologi kecanduan judi dari pengalaman Dostoevsky sendiri, seorang penulis yang menuliskan seorang penjudi sementara ia sendiri terjerat judi, dan menulisnya justru untuk melunasi konsekuensi dari judinya. Sedikit karya sastra yang berdiri begitu dekat dengan pengalaman langsung penulisnya.

Akhir yang tak terduga

Kisah ini punya penutup yang manis di tengah semua kesuraman. Anna Snitkina, stenografer muda yang membantunya memenangkan perlombaan melawan tenggat, kemudian menjadi istri Dostoevsky. Perempuan yang menyelamatkan kariernya lewat pena stenografinya menjadi pendamping hidupnya, dan menurut banyak catatan, kestabilan yang ia bawa akhirnya membantu Dostoevsky melepaskan diri dari cengkeraman judi pada tahun-tahun berikutnya.

Berjalan melewati patung Dostoevsky di taman Wiesbaden hari ini adalah berjalan melewati sebuah pengingat yang jujur tentang hubungan rumit antara penderitaan dan penciptaan. Kota yang menyaksikan salah satu kelemahan terbesar sang penulis kini menghormatinya, bukan karena kelemahan itu, melainkan karena dari kelemahan itu lahir karya yang bertahan. The Gambler bukan sekadar novel tentang judi; ia adalah dokumen dari dalam, ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengenal cengkeraman meja roulette, di bawah tekanan sebuah taruhan yang, kali ini, ia menangkan. Sebuah kecanduan yang menghancurkan uangnya ternyata, lewat jalan yang berliku, ikut melahirkan salah satu potret paling tajam tentang psikologi penjudi yang pernah ditulis.

Sumber

  1. The Gambler (novel) — Wikipedia: kontrak Stellovsky, tenggat 1 November 1866, stenografer Anna Snitkina
  2. Kota Wiesbaden (situs resmi) — patung Dostoevsky di Kurpark dan kaitannya dengan kecanduan judinya

— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.