Meja Hijau
Sejarah dan budaya di balik kasino
Sejarah

Melawan harimau: kisah faro, permainan judi paling populer di Amerika yang kini nyaris punah

Sebelum poker berkuasa, faro merajai hampir setiap rumah judi di Wild West. Ia lahir di istana Prancis, dijuluki 'melawan harimau', punya keunggulan rumah yang tipis, dan justru karena itu berakhir tenggelam dalam kecurangan dan kepunahan.

oleh Larasati Dewi · 25 September 2026

Bila Anda membayangkan meja judi di sebuah kota tambang Amerika abad kesembilan belas, gambaran yang muncul mungkin poker, dengan para koboi menggenggam kartu di dada. Gambaran itu keliru secara sejarah. Permainan yang sebenarnya merajai hampir setiap rumah judi di Wild West bukan poker, melainkan faro, sebuah permainan kartu yang kini nyaris tak dikenal siapa pun. Pada masa jayanya faro jauh lebih populer daripada poker, dan kisah kebangkitan serta kepunahannya adalah salah satu cerita paling ironis dalam sejarah perjudian: sebuah permainan yang justru dihancurkan oleh keunggulannya sendiri yang terlalu adil.

Dari istana Prancis ke saloon berdebu

Faro tidak lahir di Amerika. Akarnya ada di Prancis pada masa Raja Louis XIV, tempat ia berkembang sebagai turunan dari permainan bernama basset setelah basset dilarang menjelang akhir abad ketujuh belas. Nama aslinya adalah pharaon, kata Prancis untuk firaun, dan dari situlah “faro” berasal. Kenapa dinamai firaun adalah bagian yang harus disampaikan dengan hati-hati. Cerita populernya menyebut nama itu diambil dari gambar firaun pada salah satu kartu buatan Prancis, tetapi para sejarawan hanya “menduga” demikian; ini penjelasan yang masuk akal, bukan fakta yang terbukti pasti. Sebaiknya diperlakukan sebagai legenda, bukan sejarah yang tetap.

Dari Prancis, faro menyeberangi Atlantik dan mekar di tanah Amerika. Sepanjang abad kesembilan belas, dari sekitar 1825 sampai awal abad kedua puluh, ia hadir di hampir setiap rumah judi di kawasan barat. Sebuah analisis pada 1882 bahkan menyebut faro sebagai bentuk perjudian paling populer, melampaui semua bentuk lain digabungkan dalam hal jumlah uang yang dipertaruhkan. Baru pada awal abad kedua puluh poker menyalipnya sebagai permainan pilihan para penjudi.

Melawan harimau

Faro punya sebutan yang khas dan penuh warna. Bermain faro dijuluki “melawan harimau”, atau dalam ungkapan lain “memelintir ekor harimau”. Julukan itu berasal dari gambar harimau Bengal yang menghiasi punggung kartu faro pada masa awalnya. Gambar harimau menjadi begitu identik dengan permainan ini sehingga rumah-rumah judi memasang lukisan atau patung harimau di jendela mereka sebagai penanda bahwa faro dimainkan di dalam. Distrik-distrik judi tempat faro merajalela bahkan dijuluki “kota harimau”. Sebuah permainan yang punya maskot sendiri adalah tanda betapa dalam ia meresap ke dalam budaya populer masanya.

Cara memainkannya berpusat pada sebuah alat bernama dealing box, kotak tempat setumpuk kartu dikeluarkan satu per satu. Pemain memasang taruhan pada tata letak tiga belas kartu di atas meja, menebak kartu mana yang akan muncul, dengan pembayaran setara nilai taruhan. Aturannya sederhana dan cepat dipelajari, yang turut menjelaskan popularitasnya di kalangan luas.

Keunggulan yang terlalu tipis untuk bertahan

Di sinilah letak ironi terbesar faro. Bila dimainkan secara jujur, keunggulan rumah pada faro sangat kecil, jauh lebih tipis daripada permainan kasino lain. Bagi pemain, ini terdengar seperti berkah. Bagi pemilik rumah judi, ini masalah, sebab keuntungan yang begitu tipis membuat faro sulit dijadikan sumber pendapatan yang layak. Sebuah permainan yang nyaris adil ternyata tidak cukup menguntungkan bandar untuk dipertahankan, dan inilah salah satu benih kepunahannya.

Reaksi terhadap keunggulan yang terlalu tipis itu justru menjerumuskan faro ke reputasi terburuknya. Karena sulit untung secara jujur, banyak bandar beralih ke kecurangan. Muncul dealing box yang direkayasa, dilengkapi cermin atau prisma kecil yang hanya bisa dilihat bandar, atau mekanisme yang menarik dua kartu sekaligus untuk memanipulasi hasil. Kecurangan menjadi begitu meluas sampai sebuah panduan permainan terkenal pada masa itu memperingatkan bahwa praktis tidak ada satu pun meja faro yang jujur di seluruh Amerika Serikat. Faro, permainan yang secara matematis paling ramah bagi pemain, berubah menjadi sinonim dari penipuan.

Kepunahan sebuah raja

Kombinasi keuntungan tipis bagi bandar yang jujur dan reputasi curang bagi yang tidak jujur perlahan membunuh faro. Setelah Perang Dunia Kedua, permainan ini menjadi langka. Meja faro terakhir di Las Vegas dilaporkan tutup di Binion’s pada 1955 karena kurangnya minat, dan bank faro terakhir di seluruh negara bagian Nevada, yang bertahan lebih sebagai keingintahuan sejarah daripada permainan sungguhan, akhirnya hilang pada tahun 1980-an. Sebuah permainan yang pernah merajai ribuan rumah judi selama hampir seabad menghilang nyaris tanpa jejak, digantikan oleh blackjack, craps, dan mesin slot yang menawarkan keuntungan lebih andal bagi rumah.

Faro layak dikenang justru karena nasibnya berlawanan dengan yang kita duga. Kita cenderung membayangkan permainan kasino punah karena terlalu merugikan pemain, padahal faro tenggelam sebagian karena terlalu ramah. Keunggulan rumahnya yang tipis, yang seharusnya menjadi kebanggaan, justru mendorong kecurangan yang merusak namanya, lalu membuatnya kalah bersaing dengan permainan yang lebih menguntungkan bandar. Ekor harimau yang dulu dipelintir jutaan tangan di seluruh Amerika kini hanya tersisa di halaman-halaman sejarah, sebuah pengingat bahwa di dunia rumah judi, terlalu adil pun bisa menjadi kelemahan yang mematikan.

Sumber

  1. Faro (card game) — Wikipedia: popularitas melampaui poker abad ke-19, asal pharaon dari basset, dealing box, gaffed box
  2. Las Vegas Advisor — sejarah faro: meja terakhir di Las Vegas (Binion's, 1955) dan Nevada (Reno, 1980-an)

— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.