Dari 'hazard' ke lantai kasino: sejarah craps dan legenda yang menempel padanya
Permainan dadu craps tumbuh dari permainan Inggris kuno bernama hazard, mampir di New Orleans, dan disempurnakan seorang pembuat dadu pada 1907. Di sepanjang jalan, ia mengumpulkan lapisan legenda yang perlu dipisahkan dari faktanya.
Craps adalah salah satu permainan paling ramai di kasino mana pun, dikelilingi kerumunan yang bersorak pada setiap lemparan dadu. Tetapi di balik meja hijaunya yang penuh kotak taruhan tersimpan sejarah panjang yang berpindah dari Inggris abad pertengahan ke New Orleans, lalu ke lantai kasino modern, dan sepanjang perjalanan itu ia mengumpulkan begitu banyak legenda sampai sulit memisahkan mana yang fakta dan mana yang cerita yang enak diulang. Menelusuri asal-usul craps adalah latihan yang baik dalam berhati-hati terhadap kisah yang terdengar terlalu rapi.
Nenek moyang bernama hazard
Craps berkembang di Amerika sebagai penyederhanaan sebuah permainan dadu Inggris tua bernama hazard. Hazard sendiri sudah dimainkan berabad-abad di Eropa Barat, meski asal-usulnya sendiri kabur. Sebuah dugaan yang beredar menautkannya ke era Perang Salib, tetapi ini bersifat tentatif, bukan fakta pasti, dan sebaiknya diperlakukan demikian.
Etimologi kata “hazard” juga menarik sekaligus perlu kehati-hatian. Teori yang paling sering disebut mengaitkannya dengan bahasa Arab, dari kata yang berarti “dadu”, yang konon masuk ke Eropa lewat pengaruh Moor di Spanyol. Teori ini terdengar meyakinkan secara linguistik, tetapi tetaplah sebuah teori, bukan kepastian yang terbukti. Yang bisa dikatakan dengan aman adalah bahwa hazard adalah permainan dadu Eropa yang mapan, dan dari penyederhanaannya di tanah Amerika lahir craps.
Legenda New Orleans dan seorang bangsawan
Di sinilah cerita craps menjadi paling berwarna, dan paling perlu diluruskan. Kisah populernya menampilkan Bernard de Marigny, seorang bangsawan Creole kaya raya dari Louisiana, yang konon membawa permainan ini dari London ke New Orleans pada awal abad kesembilan belas dan mempopulerkannya sampai ia sendiri bangkrut karenanya. Cerita itu enak diceritakan, tetapi riset yang lebih baru mengoreksinya di beberapa titik penting.
Pertama, versi hazard yang dimainkan Marigny tampaknya bukan sesuatu yang ia ciptakan atau modifikasi; permainan dadu semacam itu sudah ada di Amerika jauh sebelumnya. Kedua, kisah bahwa Marigny bangkrut gara-gara craps adalah pelebih-lebihan; kemerosotan hartanya sebenarnya disebabkan hal-hal lain seperti krisis ekonomi dan kerugian di kemudian hari, bukan permainan dadu. Legenda Marigny sebagai “bapak craps yang jatuh miskin” tampaknya mengkristal lewat sebuah buku pada abad kedua puluh, jauh setelah masanya. Jadi meski Marigny tokoh nyata yang berkaitan dengan sejarah judi New Orleans, peran dramatis yang sering diberikan kepadanya sebaiknya dibaca sebagai legenda.
Asal kata “craps” pun punya dua versi. Penjelasan yang lebih didukung menautkannya ke istilah dalam hazard, yaitu “crabs”, sebutan untuk lemparan angka terendah yang kalah seketika, yang lama-lama berubah bunyi menjadi “craps”. Versi lain, yang lebih legendaris, mengaitkannya dengan kata Prancis “crapaud” yang berarti katak, konon dari julukan mengejek terhadap orang Creole. Versi crabs lebih kokoh; versi crapaud sebaiknya disebut sebagai cerita yang bersaing tanpa bukti pasti.
Tangan-tangan yang menyempurnakannya
Sejarah craps tidak lengkap tanpa menyebut kontribusi yang sering terabaikan. Salah satu pencatat permainan terkemuka mengkreditkan seorang penemu kulit hitam Amerika, yang namanya tak tercatat, atas penyederhanaan dan perampingan hazard menjadi permainan yang lebih cepat dengan ragam taruhan yang lebih kaya. Saya sebut ini sebagai atribusi dari sumber tersebut, bukan konsensus arsip yang tuntas, tetapi ia layak disebut karena mengingatkan bahwa evolusi sebuah permainan sering kali karya banyak tangan yang tak semuanya tercatat sejarah.
Sosok yang paling jelas terdokumentasi adalah John H. Winn, seorang pembuat dadu yang sekitar tahun 1907 melakukan perbaikan menentukan pada craps. Winn memperkenalkan tata letak yang memungkinkan pemain bertaruh bukan hanya bahwa pelempar akan menang, lewat taruhan yang disebut Pass, tetapi juga bahwa pelempar akan kalah, lewat taruhan Don’t Pass. Inovasi ini punya konsekuensi yang lebih dalam daripada sekadar menambah pilihan. Karena pemain kini bisa bertaruh melawan pelempar, insentif untuk memakai dadu curang runtuh; tak ada gunanya mencurangi dadu bila separuh meja justru diuntungkan oleh kekalahan Anda. Berkat perbaikan inilah Winn dijuluki bapak craps modern, dan tata letak dasar yang ia rintis masih terlihat di meja craps kasino hari ini.
Dari selimut tentara ke meja mewah
Craps mencapai puncak popularitasnya dengan cara yang tak terduga. Selama Perang Dunia Kedua, permainan ini menjadi favorit para tentara Amerika, yang memainkannya di mana saja mereka bisa, sering dengan melempar dadu ke atas selimut yang dibentangkan sebagai permukaan darurat. Versi jalanan craps, yang dimainkan pemain melawan sesama pemain tanpa meja resmi, menyebar lewat barak dan medan perang, membawa permainan ini ke seluruh penjuru negeri dan menanamkannya dalam budaya populer.
Dari selimut tentara itu, craps naik ke meja-meja mewah kasino, tempat versi bank menggantikan versi jalanan; kini pemain bertaruh melawan rumah di meja berlayout resmi, bukan melawan sesama pemain di lantai. Perjalanan panjangnya, dari permainan dadu Inggris abad pertengahan ke selimut prajurit ke meja hijau berkilau, adalah kisah khas tentang bagaimana sebuah permainan berpindah kelas dan tempat sambil terus berubah bentuk. Dan seperti banyak permainan tua, sebagian besar daya tariknya justru terletak pada lapisan legenda yang menempel padanya, cerita-cerita yang, ketika diperiksa dengan cermat, ternyata lebih rumit dan lebih jujur daripada versi yang biasa diceritakan.
Sumber
— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.