Gelombang moral: sejarah panjang melarang dan melegalkan judi
Perjudian tidak pernah sekadar dilarang atau diizinkan—ia berayun bolak-balik selama berabad-abad, mengikuti pasang surut kecemasan moral, kebutuhan kas negara, dan siapa yang sedang berkuasa. Pola ayunannya sendiri adalah cerita.
Bila Anda menyusun sejarah hukum perjudian dalam satu garis waktu panjang, yang muncul bukanlah gerakan lurus dari “dilarang” menuju “diizinkan”, atau sebaliknya. Yang muncul adalah gelombang — pasang dan surut yang berulang selama berabad-abad, di mana masyarakat yang sama melarang judi dengan penuh semangat moral pada satu generasi, lalu melegalkannya dengan penuh semangat pragmatis pada generasi berikutnya, lalu melarangnya lagi. Pola ayunan ini sendiri, terlepas dari isi tiap gelombangnya, mengungkap sesuatu yang mendalam tentang hubungan rumit manusia dengan taruhan.
Dua kekuatan yang saling tarik
Untuk memahami ayunan itu, seseorang harus melihat dua kekuatan yang selalu bekerja berlawanan. Di satu sisi berdiri kecemasan moral: keprihatinan bahwa judi merusak karakter, menghancurkan keluarga, memindahkan kekayaan dari yang rentan ke yang licik, dan menggantikan kerja keras dengan harapan pada keberuntungan. Kekuatan ini mendorong ke arah larangan, dan ia sering diperkuat oleh gerakan keagamaan atau reformasi sosial yang memandang judi sebagai penyakit yang harus diberantas.
Di sisi lain berdiri kebutuhan pragmatis, terutama kebutuhan kas negara. Perjudian menghasilkan uang — bagi penyelenggara, dan lewat pajak, bagi pemerintah. Ketika kas kosong, ketika perang harus dibiayai atau proyek dibangun, godaan untuk melegalkan dan memajaki judi menjadi kuat. Banyak pelarangan berakhir bukan karena masyarakat berubah pikiran secara moral, melainkan karena pemerintah memutuskan bahwa pendapatan dari judi lebih berguna daripada kepuasan melarangnya. Ayunan antara larangan dan legalisasi sering, pada intinya, adalah ayunan antara dua kekuatan ini — dan mana yang sedang menang pada suatu masa.
Lotre: judi yang selalu kembali
Tak ada yang mengilustrasikan ayunan ini lebih baik daripada sejarah lotre. Lotre telah dilarang dan dihidupkan kembali berkali-kali di banyak negeri, dan alasan kebangkitannya hampir selalu sama: uang. Lotre digunakan untuk membiayai hal-hal yang sulit dibiayai dengan pajak biasa — membangun universitas, jembatan, benteng, bahkan mendanai sisi-sisi awal negara. Ketika kebutuhan mendesak, lotre yang tadinya dilarang sebagai kejahatan moral tiba-tiba dibingkai ulang sebagai kontribusi warga negara yang baik.
Pembingkaian ulang inilah yang paling mengungkap. Kegiatan yang sama — bertaruh sejumlah kecil dengan harapan hadiah besar — bisa disebut “vice” yang harus diberantas atau “kontribusi sukarela untuk kebaikan publik”, tergantung siapa yang menyelenggarakannya dan ke mana uangnya pergi. Ketika penyelenggaranya swasta dan uangnya mengalir ke kantong pribadi, judi cenderung dipandang sebagai kejahatan. Ketika penyelenggaranya negara dan uangnya mengalir ke sekolah atau rumah sakit, judi yang sama cenderung dipandang sebagai hal yang dapat diterima. Moralitas judi, sepanjang sejarah, sering ternyata bergantung pada ke mana keuntungannya mengalir.
Legalisasi sebagai keputusan ekonomi
Gelombang legalisasi modern di banyak tempat mengikuti logika yang sudah tua ini, hanya dalam skala yang lebih besar. Ketika sebuah wilayah melegalkan kasino atau taruhan, argumen yang diajukan hampir selalu ekonomi: lapangan kerja, pariwisata, pendapatan pajak, dan — argumen yang paling sering — bahwa judi akan terjadi bagaimanapun, sehingga lebih baik dilegalkan dan dipajaki daripada dibiarkan di bawah tanah. Argumen “lebih baik diatur daripada dilarang” ini kuat dan sering benar, tetapi ia juga menandai kemenangan pragmatisme atas kecemasan moral — satu ayunan lagi dalam gelombang yang telah berayun selama berabad-abad.
Kejujuran menuntut kita mengakui bahwa kedua sisi ayunan ini membawa kebenaran. Kecemasan moral tidak sepenuhnya salah: judi memang bisa merusak, dan kerugiannya jatuh paling berat pada yang paling rentan. Pragmatisme juga tidak sepenuhnya salah: pelarangan total sering gagal dan mendorong judi ke pasar gelap yang lebih berbahaya. Sejarah tidak memberi jawaban bersih tentang mana yang benar, hanya memperlihatkan bahwa masyarakat terus berayun di antara keduanya, tak pernah puas lama dengan satu posisi.
Ketika negara menjadi bandar
Salah satu babak paling mengungkap dari gelombang legalisasi adalah ketika negara berhenti sekadar mengizinkan judi dan mulai menyelenggarakannya sendiri. Lotre negara adalah contoh paling luas: pemerintah yang dulu melarang lotre swasta sebagai kejahatan kini menjalankannya sendiri, memasarkannya dengan iklan, dan mengarahkan keuntungannya ke anggaran publik. Pembalikan peran ini — dari penegak larangan menjadi penyelenggara — menandai kemenangan penuh pragmatisme atas kecemasan moral.
Yang membuat babak ini secara khusus penuh ketegangan adalah bahwa negara kini memiliki kepentingan finansial pada aktivitas yang, dalam peran lain, wajib ia atur demi melindungi warganya. Sebuah pemerintah yang pendapatannya bergantung pada lotre atau kasino berada dalam posisi rumit ketika harus memutuskan seberapa ketat membatasi judi demi kesejahteraan publik — karena pembatasan yang melindungi warga juga mengurangi pendapatannya sendiri. Konflik kepentingan ini adalah salah satu warisan paling halus dari gelombang legalisasi: ia menciptakan negara yang secara bersamaan adalah pelindung warga dari bahaya judi dan penerima manfaat dari judi itu. Sejarah gelombang moral, pada titik ini, berujung pada ironi yang tak nyaman — pihak yang seharusnya menimbang bahaya judi telah menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan olehnya.
Pasang-surut yang belum berakhir
Kita hidup di dalam salah satu gelombang ini, bukan di ujungnya. Kemudahan judi daring, penyebaran taruhan olahraga, dan normalisasi bertaruh sebagai hiburan adalah pasang legalisasi yang, bila sejarah menjadi panduan, cepat atau lambat akan bertemu surut — sebuah reaksi moral ketika kerugian sosialnya menjadi cukup terlihat. Memahami pola gelombang ini memberi perspektif yang jarang dimiliki mereka yang hidup di dalam satu momennya: bahwa “normal” hari ini bukanlah keadaan akhir, melainkan satu titik dalam ayunan panjang antara dua kekuatan yang tak pernah benar-benar berdamai. Perjudian tidak pernah dimenangkan atau dikalahkan secara permanen oleh salah satu pihak; ia hanya berayun, dan mempelajari ayunannya adalah mempelajari sesuatu tentang bagaimana masyarakat menegosiasikan hal-hal yang secara bersamaan mereka inginkan dan takuti.
Sumber
— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.