Sejarah lotre negara: dari undian kuno ke pendanaan proyek publik
Lotre yang dijalankan negara memiliki sejarah panjang, dari undian kuno hingga menjadi cara mengumpulkan dana untuk tembok kota, universitas, dan proyek publik. Kisahnya mengungkap ketegangan abadi antara lotre sebagai sumber dana sukarela dan kritik sebagai pajak yang menyasar yang miskin.
Lotre, permainan di mana orang membeli tiket dengan harapan memenangkan hadiah melalui undian acak, telah menjadi bagian dari masyarakat manusia selama ribuan tahun. Tetapi di balik permainan yang tampak sederhana ini tersembunyi sejarah panjang dan menarik, terutama dalam bentuk lotre yang dijalankan oleh negara atau otoritas publik. Dari undian kuno di peradaban awal hingga menjadi cara yang digunakan pemerintah untuk mengumpulkan dana bagi tembok kota, universitas, jembatan, dan berbagai proyek publik, lotre negara memiliki peran yang jauh lebih dalam dalam sejarah daripada yang mungkin kita duga. Menelusuri sejarahnya mengungkap tidak hanya bagaimana lotre berkembang, tetapi juga sebuah ketegangan abadi yang menyertainya; antara lotre sebagai cara mengumpulkan dana publik secara sukarela dan kritik terhadapnya sebagai bentuk pajak yang cenderung menyasar mereka yang kurang mampu.
Akar kuno undian
Praktik mengundi untuk menentukan hasil memiliki akar yang sangat kuno. Tanda-tanda paling awal dari sesuatu yang menyerupai lotre datang dari Tiongkok kuno, dalam bentuk yang disebut slip keno dari masa dinasti Han, kira-kira antara tahun dua ratus lima dan seratus delapan puluh tujuh sebelum Masehi. Ada klaim yang sering diulang bahwa lotre semacam ini membantu membiayai proyek-proyek besar pemerintah, dengan sebagian menyebut Tembok Besar Tiongkok. Namun klaim tentang pembiayaan Tembok Besar ini sebaiknya disikapi dengan hati-hati, karena ia lebih merupakan tradisi yang sering diulang daripada fakta yang terdokumentasi dengan baik.
Peradaban kuno lain juga mengenal bentuk lotre. Di Kekaisaran Romawi, lotre awalnya diadakan sebagai hiburan dalam jamuan makan, di mana para tamu menerima hadiah. Yang lebih relevan dengan lotre negara, Kaisar Augustus dikatakan mengadakan lotre untuk mengumpulkan dana bagi perbaikan kota Roma, menjadikannya salah satu contoh awal lotre yang menjual tiket untuk tujuan publik. Contoh-contoh kuno ini menunjukkan bahwa gagasan menggunakan undian untuk mengumpulkan dana atau membagikan hadiah telah ada sejak lama, meski bentuknya berbeda dari lotre modern yang kita kenal. Akar kuno ini menjadi fondasi dari mana lotre kemudian berkembang menjadi bentuk yang lebih terorganisir.
Lotre publik pertama di Eropa
Lotre dalam bentuk yang lebih mirip yang kita kenal sekarang, yaitu yang menjual tiket dengan hadiah berupa uang, pertama kali tercatat di kawasan Negara-negara Dataran Rendah, yang kini menjadi Belgia dan Belanda, pada abad kelima belas. Berbagai kota di sana mengadakan lotre publik untuk mengumpulkan dana, terutama untuk membangun benteng dan tembok kota, serta untuk membantu orang miskin. Salah satu catatan yang terdokumentasi berasal dari pertengahan abad kelima belas, menyebutkan lotre yang menjual ribuan tiket dengan total hadiah uang tertentu, untuk membiayai pembangunan tembok kota.
Lotre-lotre awal Eropa ini menandai perkembangan penting; penggunaan lotre secara terorganisir oleh otoritas publik untuk membiayai proyek yang bermanfaat bagi masyarakat. Kata lotre sendiri berasal dari bahasa Belanda, terkait dengan kata yang berarti nasib atau bagian, mencerminkan akar permainan ini di kawasan tersebut. Dari Negara-negara Dataran Rendah, gagasan lotre publik menyebar ke bagian lain Eropa, dan lotre menjadi alat yang semakin umum bagi pemerintah dan otoritas untuk mengumpulkan dana tanpa memungut pajak secara langsung. Perkembangan ini meletakkan dasar bagi lotre negara sebagaimana kita kenal, yaitu lotre yang dijalankan atau disahkan otoritas untuk tujuan publik.
Membiayai proyek dan institusi
Salah satu peran paling penting dari lotre sepanjang sejarah adalah kemampuannya membiayai berbagai proyek publik dan institusi. Di Inggris pada masa Ratu Elizabeth Pertama, lotre negara pertama disahkan pada pertengahan tahun lima belas enam puluhan dan diundi pada tahun lima belas enam puluh sembilan, dengan tujuan mengumpulkan dana untuk perbaikan pelabuhan dan pertahanan pesisir. Lotre Elizabethan ini, meski penyerapan tiketnya kurang, adalah tonggak awal lotre negara yang digunakan untuk membiayai pekerjaan publik.
Di Amerika kolonial, lotre memainkan peran yang bahkan lebih menonjol dalam pembiayaan pembangunan. Lotre digunakan untuk membantu membiayai perguruan tinggi, jalan, jembatan, gereja, dan berbagai bangunan publik. Lotre membantu mendanai pemukiman Jamestown melalui perusahaan yang mengelolanya, dan turut membantu membiayai sejumlah universitas awal yang terkenal. Perlu dicatat bahwa lotre biasanya merupakan salah satu dari beberapa sumber dana, bukan satu-satunya sumber, sehingga lebih tepat dikatakan bahwa lotre membantu membiayai institusi-institusi ini daripada membangunnya sendirian. Meski demikian, peran lotre dalam pembiayaan publik di masa itu sangat nyata dan luas, menjadikannya alat penting bagi pembangunan sebelum sistem perpajakan modern berkembang. Kemampuan lotre mengumpulkan dana untuk kepentingan publik inilah yang menjadikannya begitu berharga bagi pemerintah dan otoritas sepanjang sejarah.
Ketegangan yang abadi
Sepanjang sejarahnya, lotre negara selalu diiringi oleh sebuah ketegangan yang bertahan hingga kini, yaitu perdebatan tentang sifatnya sebagai sumber pendapatan publik. Di satu sisi, lotre sering dibela sebagai cara yang tidak menyakitkan untuk mengumpulkan dana bagi kepentingan publik. Karena partisipasi bersifat sukarela, orang hanya membayar bila mereka memilih untuk bermain, lotre dipandang sebagai cara mengumpulkan dana tanpa memungut pajak secara paksa. Bagi pemerintah, ini adalah daya tarik besar; lotre menyediakan pendapatan dari mereka yang bersedia membayar secara sukarela demi kesempatan menang.
Di sisi lain, lotre juga menghadapi kritik yang serius dan bertahan lama. Para kritikus berpendapat bahwa lotre berfungsi sebagai bentuk pajak yang cenderung menyasar mereka yang kurang mampu, karena rumah tangga berpenghasilan rendah cenderung menghabiskan bagian yang lebih besar dari pendapatan mereka untuk tiket lotre. Ada pula kekhawatiran tentang negara yang mempromosikan perjudian dan tentang masalah judi yang bisa ditimbulkannya. Kedua pandangan ini, lotre sebagai sumber dana sukarela yang tidak menyakitkan dan lotre sebagai pajak yang menyasar yang miskin, telah menyertai lotre sepanjang sejarahnya dan tetap relevan hingga kini. Menelusuri sejarah lotre negara, dari undian kuno hingga pembiayaan proyek publik modern, mengungkap tidak hanya bagaimana lotre berkembang, tetapi juga ketegangan mendasar yang selalu menyertainya, sebuah perdebatan tentang keadilan dan etika yang belum sepenuhnya terselesaikan hingga hari ini.
Sumber
— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.