Meja Hijau
Sejarah dan budaya di balik kasino
Tokoh

The Eudaemons: mahasiswa fisika, komputer dalam sepatu, dan usaha mengalahkan roulette

Pada akhir 1970-an, sekelompok mahasiswa fisika membangun salah satu komputer pertama yang bisa dipakai di tubuh, disembunyikan dalam sepatu, untuk memprediksi roulette lewat hukum fisika. Kisah mereka adalah petualangan ilmiah yang berani, meski hasilnya jauh dari sempurna.

oleh Larasati Dewi · 17 Oktober 2026

Roulette dianggap sebagai lambang keacakan murni, sebuah permainan di mana tidak ada keterampilan yang bisa mengubah peluang, dan rumah selalu unggul. Tetapi pada akhir tahun 1970-an, sekelompok mahasiswa fisika menantang anggapan itu dengan gagasan yang berani dan cerdik: bahwa roda roulette, sebagai objek fisik, mematuhi hukum-hukum fisika, dan karena itu, untuk sesaat, hasilnya bisa diprediksi. Untuk membuktikannya, mereka membangun salah satu komputer pertama yang bisa dipakai di tubuh, menyembunyikannya di dalam sepatu, dan membawanya ke kasino. Mereka menyebut diri mereka the Eudaemons, dan kisah mereka adalah salah satu petualangan paling menarik dan paling berani dalam sejarah upaya menaklukkan permainan kasino, sekaligus contoh betapa jauhnya jarak antara teori yang indah dan pelaksanaan yang nyata.

Gagasan fisika di balik roulette

Untuk memahami apa yang dilakukan the Eudaemons, kita perlu memahami wawasan fisika di jantung usaha mereka. Roulette tampak sepenuhnya acak, tetapi sesungguhnya, dalam jendela waktu singkat setelah bandar melepas bola tetapi sebelum bola mulai jatuh dan memantul, roda dan bola bergerak mengikuti hukum fisika yang deterministik. Bola berputar dengan kecepatan tertentu, roda berputar dengan kecepatan tertentu, dan hukum gerak menentukan ke arah mana bola cenderung melambat dan jatuh.

Gagasan the Eudaemons bukanlah untuk memprediksi angka pasti tempat bola mendarat, yang mustahil karena pantulan akhir bola memang kacau, melainkan untuk memprediksi bagian mana dari roda, atau oktan, yang lebih mungkin menjadi tempat bola jatuh. Dengan mengukur kecepatan bola dan roda pada saat yang tepat, mereka bisa menghitung prediksi kasar tentang seksi roda yang lebih mungkin, dan prediksi kasar itu sudah cukup untuk menggeser peluang ke pihak pemain. Ini bukan melawan keacakan, melainkan mengeksploitasi kenyataan bahwa sebuah roda fisik nyata mengikuti fisika Newton untuk sesaat sebelum hasilnya menjadi tak terprediksi.

Komputer di dalam sepatu

Untuk melakukan perhitungan ini secara langsung di kasino, the Eudaemons membangun sesuatu yang luar biasa untuk masanya, yaitu salah satu komputer digital pertama yang bisa dipakai di tubuh. Komputer kecil ini disembunyikan di dalam sepatu, sebuah pencapaian teknik yang mengesankan pada era ketika komputer umumnya masih berukuran besar.

Cara kerjanya melibatkan pembagian tugas antara dua orang. Seorang anggota bertindak sebagai pengambil data, yang diam-diam menandai waktu ketika bola dan titik acuan pada roda melewati sebuah patokan, dengan menekan sakelar kecil menggunakan jari kakinya. Komputer di sepatu lalu menghitung prediksi dan mengirimkan sinyal kepada anggota kedua yang bertugas bertaruh, lewat getaran yang bisa dirasakan di tubuh, memberi tahu seksi mana yang sebaiknya dipasangi taruhan. Dengan sistem ini, prediksi fisika bisa dilakukan secara langsung di meja tanpa menarik perhatian, setidaknya dalam teori.

Antara klaim dan kenyataan

Di sinilah kejujuran menuntut kita membedakan antara klaim dan kenyataan. Sumber-sumber sering menyebut bahwa metode the Eudaemons memberi keunggulan yang sangat besar, dengan angka yang kadang disebut mencapai sekitar empat puluh empat persen ke pihak pemain. Namun angka ini perlu diperlakukan dengan hati-hati sebagai klaim yang diperdebatkan, sebagian karena ia sebagian besar berasal dari catatan mereka sendiri, dan bahkan salah satu tokoh utamanya di kemudian hari menyebut angka keunggulan yang jauh lebih rendah, sekitar dua puluh persen. Jadi besar keunggulan sesungguhnya tidak pasti dan sebaiknya tidak disajikan sebagai fakta yang mapan.

Yang lebih pasti adalah bahwa dalam praktik, usaha ini menghadapi banyak masalah. Perangkat kerasnya tidak andal, dan ada laporan bahwa kegagalan teknis menyebabkan kejutan listrik yang menyakitkan bagi pemakainya, dengan satu insiden yang bahkan melukai kulit seorang anggota dan ikut memicu berakhirnya proyek. Keuntungan nyata yang mereka raih tergolong kecil. Karena itu, the Eudaemons lebih tepat dipahami sebagai bukti konsep dan petualangan ilmiah yang berani daripada sebagai mesin uang yang benar-benar berhasil. Mereka membuktikan gagasannya mungkin, tetapi tidak berhasil mengubahnya menjadi keuntungan besar yang andal.

Warisan yang tak terduga

Bagian paling menakjubkan dari kisah the Eudaemons adalah apa yang terjadi pada para anggotanya setelahnya. Alih-alih menjadi penjudi profesional, beberapa dari mereka menjadi ilmuwan terkemuka. Dua tokoh utamanya menjadi nama-nama terkenal dalam bidang teori chaos dan ilmu kompleksitas, cabang sains yang mempelajari sistem yang tampak acak namun sebenarnya diatur oleh aturan-aturan tersembunyi. Ada semacam kesinambungan yang indah di sini: ketertarikan mereka pada memprediksi roda roulette, sebuah sistem di perbatasan antara keteraturan dan kekacauan, bersambung dengan karier ilmiah mereka mempelajari sistem-sistem serupa. Petualangan kasino mereka kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku yang menceritakan kisah lengkapnya.

Menelusuri kisah the Eudaemons adalah menyaksikan pertemuan antara keberanian intelektual dan batas-batas kenyataan. Gagasan mereka brilian dan secara prinsip benar: sebuah roda roulette memang mematuhi fisika, dan hasilnya memang bisa sedikit diprediksi dalam jendela yang tepat. Tetapi mengubah wawasan brilian itu menjadi keuntungan nyata di dunia yang berantakan, dengan perangkat keras yang gagal dan kasino yang mengawasi, ternyata jauh lebih sulit daripada teorinya. Kisah mereka mengingatkan bahwa jarak antara membuktikan sesuatu mungkin dan benar-benar melakukannya dengan andal bisa sangat jauh, dan bahwa kadang nilai sejati dari sebuah petualangan bukan terletak pada keuntungan yang diraih, melainkan pada keberanian mencobanya dan pada ke mana ia akhirnya membawa para pelakunya.

Sumber

  1. Eudaemons — Wikipedia: mahasiswa fisika UC Santa Cruz, komputer sepatu, dan prediksi roulette
  2. The Eudaemonic Pie (Thomas A. Bass, 1985) — dokumentasi kisah dan warisan teori chaos

— Larasati Dewi menulis untuk Meja Hijau. Larasati Dewi menulis esai panjang tentang tempat dan orang di balik dunia perjudian, dengan minat khusus pada arsitektur dan sejarah sosial. Ia menelusuri sumber agar ceritanya berpijak, bukan sekadar enak dibaca.